Kamis, 19 April 2018

Materi Siklus Akuntansi

A. Tahapan Proses Akuntansi 

Akuntansi menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk pengambilan keputusan. Untuk menyediakan informasi tersebut dibutuhkan data keuangan dan diproses dengan cara tertentu. Tahap-tahap yang dijalani dalam proses akuntansi disebut dengan siklus akuntansi. 

Secara berurutan siklus akuntansi meliputi tahaptahap sebagai berikut: 

  1. Mencatat transaksi keuangan dalam bukti-bukti transaksi dan melakukan analisis transaksi keuangan tersebut. 
  2. Mencatat transaksi keuangan dalam buku jurnal. Tahapan ini disebut dengan menjurnal. 
  3. Meringkas dalam buku besar transaksi-transaksi yang sudah dijurnal. Tahapan ini disebut posting atau mengakunkan. 
  4. Menentukan saldo-saldo buku besar di akhir periode dan menuangkannya dalam neraca saldo
  5. Menyesuaikan buku besar berdasarkan pada informasi yang paling up to date (mutakhir). 
  6. Menentukan saldo-saldo buku besar setelah penyesuaian dan menuangkannya dalam neraca saldo setelah penyesuaian.
  7. Menyusun laporan keuangan (laporan rugi laba, laporan perubahan modal, neraca). 
  8. Menutup buku besar atau penutupan buku.
  9. Menentukan saldo-saldo buku besar dan menuangkannya dalam neraca saldo setelah tutup buku.
Di samping tahapan di atas, masih ada dua prosedur yang sifatnya tidak wajib yaitu neraca lajur (kertas kerja) dan jurnal pembalik. Neraca lajur digunakan untuk mempermudah tahap-tahap berikut: penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, laporan keuangan dan penutupan buku. Apabila neraca lajur digunakan, maka penyelenggaraannya adalah sebelum tahapan nomor 5 dari siklus akuntansi. Setelah neraca lajur selesai maka dapat dengan segera disusun laporan keuangan tanpa harus menyelenggarakan lebih dulu tahapan no 5 dan 6. Pada buku ini, proses penyusunan laporan keuangan menggunakan neraca lajur. 

Siklus akutansi pada periode tertentu berakhir pada tahapan no 9 seperti penjelasan sebelumnya. Kemudian periode berikutnya dari siklus akuntansi dimulai lagi dari mulai tahapan nomor 1. Namun, ada prosedur atau tahapan yang disebut dengan jurnal pembalik yang sifatnya tidak wajib. Tahapan ini diselenggarakan semata-mata hanya untuk mempermudah penyelenggaraan akuntansi pada periode berikutnya sebelum penjurnalan transaksi. Jadi jurnal pembalikan diselenggarakan pada hari kerja pertama sebelum terjadi transaksi keuangan (misalnya tanggal 2 januari jika periodenya adalah tahun kalender).

B. Ragam Transaksi 

Transaksi keuangan sangat banyak ragamnya. Jika dikaitkan dengan pertanyaan dengan siapa perusahaan bertransaksi? Maka transaksi keuangan dapat dikelompokkan sebagai berikut: 
  1. Transaksi dengan Pemilik, adalah transaksi yang terjadi anara perusahaan dan pemilik. Transaksi ini terdiri atas transaksi penyetoran modal dan transaksi penarikan kembali modal tersebut. 
  2. Transaksi dengan Kreditor, adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan dan kreditor. Transaksi ini terdiri atas transaksi penarikan pinjaman dan pelunasan pinjaman tersebut.
  3. Transaksi dengan Pelanggan, adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan dengan pelanggan. Transaksi ini terdiri atas transaksi penjualan barang/jasa perusahaan kepada pelanggan dan transaksi pengembalian barang oleh pelanggan karena barang tidak sesuai dengan pesanan. 
  4. Transaksi dengan Pemasok, adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan dan pemasok (misalnya pemasok bahan baku). Transaksi ini terdiri atas transaksi pembelian bahan baku, barang dagangan, ataupun barang lainnya seperti alat-alat kantor, kendaraan, dan mesin produksi.
  5. Transaksi dengan Penyedia Nilai Tambah (karyawan), adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan dengan siapa pun yang menyediakan nilai tambah kepada produk/jasa perusahaan. Karyawan misalnya, menyediakan tenaganya kepada perusahaan dalam rangka melayani pelanggan atau membuatkan barang yang akan dijual kepada konsumen. PLN sebagai contoh lain, menyediakan tenaga listrik bagi perusahaan agar dapat berproduksi dan melayani konsumen. 
C. Bukti Transaksi 

Suatu transaksi dapat dibukukan jika ada bukti pembukuan yang telah disahkan oleh yang berwenang. Bukti pembukuan harus didukung oleh adanya bukti-bukti transaksi yang sah pula. Bukti transaksi dapat berupa kuitansi tanda lunas pembayaran, faktur pembelian, tanda terima barang, daftar gaji, order pembelian, cek yang diterima dari pihak lain dan sebagainya. Misalnya untuk membuat bukti pembukuan pengeluaran kas untuk pembelian barang diperlukan bukti transaksi order pembelian, faktur penjualan dari pemasok, tanda terima barang dan kuitansi tanda terima uang dari pemasok.